
Eksplorasi Pecinan Surabaya Budaya, Kuliner, dan Sejarah
Eksplorasi Pecinan Surabaya: Budaya, Kuliner, dan Sejarah – Sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan sejak masa kolonial, Surabaya tumbuh menjadi kota multikultural. Salah satu kawasan yang menjadi bukti nyata keberagaman itu adalah Pecinan Surabaya—area dengan dominasi budaya Tionghoa yang sangat kental, terutama di kawasan Kya-Kya, Jalan Kembang Jepun, dan sekitarnya.
Eksplorasi ke kawasan ini tak hanya menyuguhkan suasana khas oriental, tapi juga perpaduan budaya, kuliner, dan sejarah yang begitu kaya dan memikat.
Eksplorasi Pecinan Surabaya: Budaya, Kuliner, dan Sejarah

1. Menelusuri Jejak Sejarah: Dari Kembang Jepun hingga Rumah Abu Han
📍 Kembang Jepun adalah jalan utama di Pecinan Surabaya yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa. Bangunan tua dengan arsitektur Tiongkok-Belanda masih berdiri kokoh di sepanjang jalan ini.
Salah satu bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi adalah Rumah Abu Han, rumah klan yang digunakan untuk sembahyang leluhur. Interior kayu tua dan altar yang masih aktif digunakan menjadi saksi bisu akulturasi budaya Tionghoa-Jawa.
2. Kelenteng Boen Bio & Sanggar Agung
Kelenteng Boen Bio atau Kelenteng Jalan Kapasan menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Konghucu. Bangunan ini punya arsitektur khas, dengan ukiran naga, tiang merah mencolok, dan ornamen emas.
Sementara itu, Sanggar Agung di Kenjeran menjadi tempat ibadah yang lebih modern, lengkap dengan patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter di tepi laut. Tempat ini menjadi ikon spiritual sekaligus spot foto yang populer.
3. Budaya dan Tradisi yang Masih Lestari
Di Pecinan Surabaya, budaya Tionghoa bukan sekadar dekorasi. Masyarakat masih melestarikan tradisi-tradisi seperti:
-
Festival Imlek dan Cap Go Meh, dengan barongsai dan bazar meriah
-
Sembahyang Leluhur, seperti Ceng Beng (ziarah kubur)
-
Kegiatan sosial budaya di vihara dan rumah klan
Yang menarik, masyarakat non-Tionghoa pun turut berpartisipasi, menciptakan harmoni budaya yang erat dan hidup berdampingan.
4. Kuliner Khas Pecinan: Dari Kudapan Legendaris hingga Street Food Populer
Jangan pernah eksplorasi Pecinan tanpa mencicipi kuliner khasnya. Berikut beberapa yang wajib kamu coba:
🍜 Rujak Cingur Pecinan
Versi rujak khas Tionghoa-Surabaya dengan tambahan bahan seperti pangsit goreng dan potongan daging sapi manis.
🥟 Bakpao Boldy
Bakpao legendaris yang sudah berjualan sejak 1950-an. Isiannya autentik: ayam kecap, kacang hijau, dan babi char siu (halal/non-halal tersedia terpisah).
🥢 Mie Karet Kembang Jepun
Mie kenyal yang dimasak dengan teknik pangsit kuah, disajikan dengan bakso ikan buatan sendiri dan sambal bawang khas.
🍡 Kue Ku dan Kue Mangkok
Jajanan tradisional Tionghoa yang bisa ditemukan di toko-toko kue sekitar Jalan Karet atau Pasar Atom lama.
☕ Kopi Es Kya-Kya
Diseduh dengan cara klasik dan disajikan dengan susu kental manis. Cocok diminum sambil menikmati suasana malam kawasan Pecinan.
5. Kya-Kya: Pecinan Malam Hari yang Kini Kembali Hidup
Kya-Kya dulunya sempat mati suri, tapi kini telah dihidupkan kembali sebagai pusat kuliner malam dan pusat budaya. Di sepanjang Kya-Kya, pengunjung bisa menemukan:
-
Stand makanan kaki lima khas Tionghoa dan Nusantara
-
Hiburan barongsai atau musik akustik
-
Toko oleh-oleh dan aksesoris oriental
Kya-Kya saat malam hari menawarkan nuansa eksotik—lampion bergelantungan, bau harum makanan, dan suara riuh pengunjung yang menjadikan tempat ini tak boleh dilewatkan.
6. Street Photography & Arsitektur
Buat kamu yang suka fotografi atau konten Instagramable, kawasan Pecinan Surabaya menyimpan banyak spot menarik:
-
Jalan Karet dengan tembok-tembok mural tua
-
Gapura Kya-Kya bergaya oriental
-
Lorong sempit di belakang ruko tua yang punya pencahayaan natural menarik
-
Bangunan toko kelontong jadul yang masih aktif
Waktu terbaik datang adalah pagi hari (jam 7–10) untuk pencahayaan natural dan sore hari menjelang malam (jam 5–8) untuk tangkapan lampion dan aktivitas warga.
7. Tips Eksplorasi Pecinan Surabaya
-
🕰️ Datang saat akhir pekan malam hari untuk suasana lebih meriah
-
🚶♂️ Jelajahi dengan berjalan kaki karena banyak spot tersembunyi di gang kecil
-
📷 Bawa kamera atau HP dengan mode malam dan HDR untuk menangkap pencahayaan lampion
-
🍽️ Tanya ke warga lokal soal rekomendasi makanan yang tidak selalu muncul di Google
-
🙏 Hormati aktivitas keagamaan di kelenteng, jangan sembarangan ambil gambar altar
8. Nilai Historis & Toleransi yang Ditanamkan
Pecinan Surabaya tidak hanya menyimpan makanan enak dan spot foto menarik, tapi juga menjadi salah satu simbol kuat toleransi dan koeksistensi budaya di Indonesia. Di sini, umat Tionghoa, Muslim, dan masyarakat lokal hidup berdampingan dengan penuh hormat satu sama lain.
Kesimpulan
Eksplorasi Pecinan Surabaya adalah pengalaman yang kaya akan budaya, sejarah, dan kuliner. Dari lorong kecil yang berisi cerita ratusan tahun, sampai makanan tradisional yang terus hidup di tengah modernisasi kota—semua menyatu dalam atmosfer yang hangat dan otentik.
Jadi, jika kamu ingin melihat sisi lain dari Surabaya yang jarang disorot, kawasan Pecinan adalah tempat yang harus kamu datangi. Tak sekadar eksplorasi, tapi juga pelajaran hidup dan budaya dalam satu kunjungan.